Kado Istimewa

‘Kado Istimewa’

‘Kado Istimewa’ berkisah tentang wanita Jawa bernama Bu Kustiyah. Bu Kustiyah bertekad menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi di Jakarta. Pak Hargi adalah atasan Bu Kustiyah ketika zaman perjuangan dulu.

Pada awal cerita, Bu Kus yang tinggal di Kalasan mendapat kabar dari Wawuk, anaknya yang sudah berkeluarga dan menetap di Jakarta. Kabar itu tentang pernikahan putra Pak Hargi, atasan Bu Kus ketika masa perjuangan dahulu. Setelah mendengar kabar itu, Bu Kus bertekad menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi di Jakarta.

Pada hari menjelang acara ia bergegas naik kereta menuju Jakarta. Sesampainya di Jakarta, Wawuk sangat kaget menerima kunjungan ibunya karena tidak memberi kabar sebelumnya. Wawuk lebih kaget lagi setelah mengetahui tujuan ibunya datang ke Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Wawuk tidak bisa menghalangi niat ibunya walaupun ibunya tidak mendapat undangan. Sebagai pengabdian dan penghormatan kepada Pak Hargi, Bu Kus merasa sepantasnya datang mengucapkan selamat dan ikut berbahagia.

Totok, suami Wawuk, segera mencari informasi mengenai waktu dan tempat resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Bu Kus sangat senang sekaligus terkejut ketika diberi tahu bahwa resepsi pernikahan itu dilangsungkan di sebuah hotel berbintang. Bu Kus segera menyiapkan kado untuk putra Pak Hargi. Bu Kus berharap kadonya itu mengingatkan Pak Hargi pada masa perjuangan dulu. Oleh karena itu, Bu Kus membuat tiwul, makanan khas Jawa, yang pada masa perjuangan dulu menjadi makanan sehari-hari.

Wawuk sangat cemas melihat sikap ibunya. Pada malam hari ibunya membuat tiwul sendirian. Setelah matang Tiwul itu dimasukkan ke dalam sebuah nampan anyaman bambu yang sudah dilapisi kain putih berbordir. Kemudian makanan itu dibungkus rapi dengan kertas warna coklat. Wawuk melihat ibunya sungguh-sungguh mempersiapkan kado tiwul makanan kesukaan Pak Hargi. Padahal sekarang, Pak Hargi seorang pejabat dan sangat kaya. Wawuk merasa khawatir akan penampilan ibunya pada acara resepsi nanti. Baju kebaya, sandal, dan tas yang akan dikenakan ibunya tidak ada yang baru bahkan sudah beberapa tahun yang lalu.

Pada hari H, Wawuk dan suaminya mengantar Bu Kustiyah pergi ke hotel untuk menghadiri resepsi pernikahan Pak Hargi. Penjagaan ketat mewarnai ruang resepsi hotel Sahid Jaya. Di halaman bertebaran petugas security, lengkap mengenakan setelan jas hitam dan handy-talky di tangan. Pintu masuk menggunakan detektor beralarm. Bu Kus melihat semuanya itu dengan pandangan kagum, apalagi ketika diberi tahu presiden juga diundang dan akan hadir.

Bu Kus masuk lewat pintu beralarm. Dia menitipkan kadonya pada petugas yang cantik-cantik. Dia juga berpesan agar hati-hati menaruh kadonya jangan sampai terbalik. Tamu yang diundang kurang lebih dua ribu orang. Bu Kus ikut antri menuju pelaminan untuk bersalaman dengan pengantin dan Pak Hargi.

Setelah kurang lebih satu jam berdesakan, akhirnya Bu Kus sampai juga di tempat pelaminan. Perasaannya berbinar dan ia pun berbisik dalam hati mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa. Dengan tangan gemetar, Bu Kus menghaturkan salam pada Pak Hargi. Bu Kus tidak bisa menahan diri, ia menubruk dan menciumi tangan Pak Hargi dan terisak-isak. Tentu saja, Pak Hargi mengerutkan kening walaupun Bu Kus menyebut namanya dan menyebut nama teman-teman seperjuangannya dahulu.

Bu Kus masih ingin mengingatkan Pak Hargi tentang dirinya tetapi Pak Hargi tidak menanggapinya. Pak Hargi hanya mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Bu Kus. Ketika antrian macet, Pak Hargi cepat menguasai diri dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan Bu Kus. Setelah itu, antrian kembali berjalan normal. Bu Kus meninggalkan pelaminan dengan perasaan lega. Ruang resepsi yang maha indah dan luas itu dirasakannya hangat menyambut kedatangannya. Ia mengajak Totok dan Wawuk menjelajahi seluruh ruangan, mencicipi semua jenis makanan.

Seminggu kemudian, di rumah pengantin baru, rombongan saudara-saudara kandung dan sepupu datang. Mereka melihat kado yang tersimpan dalam karung-karung plastik yang belum dibuka sejak resepsi. Saudara-saudaranya disuruh memilih dan mengambil kado sesuka hatinya. Sebagaimana orang kaya, kado yang diterima kedua mempelai itu ada yang berupa mobil, kunci rumah, uang, dan barang-barang mewah lainnya. Ketika salah seorang menemukan kado berbungkus coklat dan berbau busuk, mereka membukanya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa nama makanan itu. Mereka memanggil pembantu rumah dan menyuruhnya membuang kado makanan busuk itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s